DEMI SEORANG IBU

Oleh Sardono Syarief

Rosid adalah anak tunggal Mak Darni. Perangai anak kelas 1 SMP itu agak kurang terpuji. Ia amat nakal lagi badung. Tak pernah sekali pun ia menurut nasihat apalagi perintah baik Emaknya. Bahkan sebaliknya, Rosid sering berani membantah dan melawan omongan Mak Darni. Oleh sebab itu, bila ada sesuatu yang dirasakan, Mak Darni lebih banyak mengambil sikap diam. Percuma membagikan perasaannya kepada Rosid, anaknya yang tak pernah punya rasa belas kasihan terhadapnya itu.

Pernah suatu hari, Mak Darni jatuh sakit. Perempuan setengah baya itu tak mampu bangun dari tidurnya untuk menanak nasi. Itu sebabnya, ketika Rosid pulang sekolah, di rumah tak didapati nasi walau sesendok pun.

“Nasi saya mana, Mak?” dengan nada kesal, Rosid bertanya.

“Coba kaucari di almari makan, Sid!” jawab emaknya lirih.

“Tidak ada, Mak.”

“Oh, kalau tak ada berarti telah habis, Sid!”

“Terus bagaimana dengan perut saya yang lapar ini, Mak?”

“Kalau bisa kau menanak sendiri, ya? Perut Emak sakit sekali, Sid.”

“Tak mau!” sahut anak badung itu marah. Dibantingnya piring yang ada di tangan kirinya keras-keras, hingga pecah berantakan.

“Rosid, kau tahu Emak sedang sakit, bukan?” omong Mak Darni sambil terbaring di atas ambin.

“Tak peduli! Mau Emak sakit apa tidak, itu bukan jawaban yang saya butuhkan. Butuh saya nasi, Mak!”

“Rosid,….Rosid….!” Mak Darni kesal. “Mbok tahulah sedikit akan perasaan Emak. Kenapa sih?”

“Tak peduli !” sambil menjawab demikian, anak itu langsung membanting daun pintu kamar emaknya,

“Braaaakkk…….!” Lalu kabur tanpa pamit.

“Mau ke mana kau, Sid?”

Rosid membisu. Hatinya kecewa bercampur kesal jadi satu. Anak itu mengambil langkah seribu menuju gardu di sudut desa. Setiba di gardu, Rosid duduk melamun seorang diri. Pikirannya melayang-layang jauh ke langit tinggi.

“Rosid, sedang mengapa kau melamun sendiri di situ?” tegur Adnan, teman sepermainannya yang lama tinggal di panti asuhan.

“Ah…..Aku kesal pada Emakku, Nan! Pulang sekolah, tak ada nasi di rumah. Alasan Emak sakit.”

“Lantas kau berbuat apa pada Emakmu, Sid?” Adnan menghampiri temannya yang kelihatan suntuk itu.

“Aku marah pada Emak.”

Mendengar jawaban Rosid, Adnan jadi geleng-geleng kepala.

“Jangan begitu kasar kepada Emakmu, Sid! Jangan bersikap berani pada seorang Ibu. Apalagi Emakmu sedang sakit. Seharusnya justru kamu yang tahu diri. Bisanya di rumah tak kau temukan nasi, karena Emakmu sakit. Jika Emakmu sehat, di rumahmu pasti selalu ada nasi, bukan?”

“Bagaimana aku tak bersikap kasar, Nan? Dalam kondisi lapar, nasi secuil pun tak ada. Bagaimana kalau kau sendiri yang menghadapi, Nan?”

“Kalau aku,”jawab Adnan dengan nada datar. “Aku akan berusaha sabar. Kalau ada beras, aku akan mencoba menanaknya hingga jadi nasi, Sid.”

“Kalau tak ada beras?” balas Rosid membela diri.

“Aku akan mencoba mencarinya ke toko yang jual beras.”

“Kalau tak punya uang?”

“Aku akan berusaha mencari uang. Di samping untuk beli beras, juga untuk mengobatkan sakit Ibu biar lekas sembuh. Sayang……”

“Apa yang kau sayangkan, Nan?”

“Aku sudah tidak punya Ibu maupun Ayah lagi. Aku sudah tidak bisa membalas jasa baik orangtua. Masih beruntung kamu, Sid. Meski Ayahmu telah tiada, namun Emak masih punya. Sayangi dan hormatilah dia , Sid!”

Rosid menunduk diam. Tampaknya Rosid menyimak benar apa yang diceramahkan Adnan, temannya. Anak lelaki itu jadi sadar akan kesalahan sikapnya selama ini terhadap Ibunya.

“Baiklah. Aku akan berusaha mencari uang untuk mengobatkan sakit Emak, Nan.”

“Ke mana kau akan mencari uang, Sid?”

“Ke tengah sawah,”jawab Rosid.

“Memangnya di tengah sawah ada orang menyebar uang?”

“Ada. Aku akan memunguti siput-siput yang bergerombol di pokok-pokok tumbuhan padi. Kemarin kulihat di sana banyak siput. Berarti di sana banyak uang yang tersebar, kalau siput-siput itu berhasil kukumpulkan dan kujual.”

“Bagus! Tekadmu amat bagus, Sid!” puji Adnan sambil mengacungkan ibu jari kanannya ke hadapan mata Rosid.

“Ini kuberi satu kantong plastik kresek hitam untuk wadah siput-siput yang kaukumpulkan nanti!”

“Ah….!Bisa saja kau, Nan? Dari mana kau dapatkan kantong plastik ini?”

“Dari toko. Tadi oleh Ibu pengasuh panti, aku disuruh membelinya untuk wadah beras yang bakal dibagi-bagikan kepada anak yatim di luar panti asuhan.”

“Kapan acara itu bakal berlangsung, Nan?”

“Tanggal 22 Desember, bertepatan dengan hari Ibu lusa, Sid.”

“Baiklah. Terima kasih atas pemberian plastikmu ini, Nan!”

“Ya. Selamat berjuang. Semoga lekas kaudapatkan banyak siput. Semoga lekas kaudapatkan banyak uang. Dan semoga Emakmu lekas sembuh berkat peranta obat yang kaubeli dari hasil kerja kerasmu nanti, Sid.’

“Terima kasih atas semua doamu, Nan.”

Usai itu Adnan berlalu menuju rumah panti. Begitu pun Rosid segera menuju sawah di sebelah barat desa.
Sesampai di tempat tujuan, Rosid segera terjun ke lumpur sawah. Dengan kedua tangannya anak itu cepat-cepat memunguti siput-siput yang menempel di pokok batang padi.

“Ah….Sudah bedug asharkah? Kok matahari sudah condong ke barat?”mata Rosid memandang letak matahari.

“Tapi, siput yang kukumpulkan belum begitu banyak. Masih belum cukup untuk aku tukarkan uang.”

Kembali Rosid membungkukkan badannya. Menyelinap di antara sekian ribu pokok padi.

“Ah…!” sekali lagi Rosid menegakkan badannya yang telah terasa penat akibat lama membungkuk seraya melihat letak matahari. “Seperti inikah susah-payah Emak dalam berjuang membela dan memelihara hidupku? Ah….! Maafkan aku, Mak!” sambil berucap seperti itu, Rosid naik ke pematang. “Pulang, ah…! Hari sudah sore kok. Lagipula siput yang kuperoleh sudah cukup banyak.”

Sebelum tiba di rumah, Rosid sengaja mampir ke warung Mbak Murdiah. Siput-siput perolehannya ditawarkan kepada si penjaja siput rebus itu. Dari Mbak Murdiah, Rosid menerima uang sebanyak Rp 50.000,00.

“Alhamdulillah. Aku punya uang,” kata Rosid dalam hati dengan perasaan gembira. “Dengan uang ini nanti akan kuundang Pak Mantri Kesehatan untuk memeriksa sakit Emak. Dengan uang ini pula akan kuminta pertolongannya untuk bersedia memberi obat kepada Emak. Tentu agar sakit Emak bisa lekas sembuh. Agar kesehatan Emak dapat pulih kembali. Agar setiap aku pulang dari sekolah bisa kutemukan lagi sepiring nasi di almari makan.

Ah, ….! Ternyata hidup tanpa peranan seorang ibu, keadaan akan sangat kacau. Emak, maafkan semua skap keliruku!,” demikian panjang Rosid bermain-main dengan lamunannya, Hingga tak terasa kalau sebenarnya anak lelaki yang sore itu siap melenyapkan sikap badungnya telah lama tiba di halaman rumah.***

Pekalongan, 1 Desember 2009
----------------

Sardono Syarief
Ketua Agupena Kab. Pekalongan


Jl. Raya Domiyang No.116
Paninggaran-Pekalongan 51164
Email: sardono sy63@gmail.com

0 komentar:

Posting Komentar