Pentingnya Sinergi Pusat-Daerah dalam Pendidikan

otoda

Pelaksanaan otonomi daerah dalam pendidikan perlu memperhatikan tiga hal yakni instrumen kebijakan, sinergi pusat dan daerah, serta pembenahan sumber daya manusia pusat dan daerah. Dalam pembukaan Seminar Nasional dengan tema "Otonomi Daerah dan Implementasinya dalam Pendidikan", pada Sabtu, (20/11), di Hotel Salak, Bogor, Jawa Barat, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional (Sekjen Kemdiknas), Dodi Nandika mengatakan, instrumen kebijakan harus terus dicermati, apa yang kurang termasuk standar pelayanan minimal.

"Kedua bagaimana kita membangun sinergi yang mutualismenya menonjol. Dan yang ketiga, SDM sama-sama kita benahi," kata Dodi. Dlam pembenahan SDM antara daerah dan pusat tidak menutup kemungkinan adanya pelatihan yang dilakukan bersama-sama. "Ada pelatihan misalnya saja pelatihan sistem perencanaan pendidikan nasional atau pelatihan mengenai pengolahan data, pelatihan mengenai pelaporan kinerja, dan lain-lain," katanya.

Dodi mengingatkan, dalam pendidikan ada soal kedaerahan itu perlu ditonjolkan. Namun manajemen basis sekolah juga penting. "Mudah-mudahan dua hal ini tidak saling menghilangkan tapi saling memperkuat." Dodi berharap seminar ini dapat mencermati bagaimana pembagian tugas, kewenangan, fungsi masing-masing, baik di dinas pendidikan maupun di Kementerian Pendidikan Nasional, agar terus saling mengisi dan bukan mengurangi.

Seminar Nasional ini yang dilaksanakan hingga hari ini di Hotel Salak, Bogor, Jawa Barat, bertujuan menghimpun masukan dan menyusun rekomendasi kebijakan otonomi daerah dan implementasinya dalam pendidikan. Beberapa hal yang menjadi perhatian adalah pembiayaan, kurikulum, sarana dan prasarana, pendidik dan tenaga kependidikan, serta pengendalian mutu pendidikan. Seminar diikuti 188 peserta yang terdiri dari kepala dinas pendidikan provinsi/kota/kabupaten, bupati/walikota, kepala sekolah, Dewan pendidikan dan yang terkait lainnya. ***

Sumber: www.kemdiknas.go.id
(Baca lanjutannya ....)

Standar Pengembangan KKG/MGMP

MGMPDirektorat profesi pendidik, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas sudah mengeluarkan Standar Pengembangan KKG/MGMP sejak tahun 2008. Namun, sebagian besar KKG/MGMP, termasuk di Kab. Kendal agaknya masih banyak yang belum mengetahui informasi ini. Padahal, kalau dilihat substansi materinya, standar ini cukup penting untuk diketahui oleh para pengurus KKG/MGMP dan instansi terkait sebagai acuan pengembangan organisasi profesi guru ini.

Selain memuat standar pengembangan KKG/MGMP, standar ini juga memuat standar operasional prosedur MGMP yang bisa dijadikan sebagai pedoman bagi pengurus dalam menjalankan program-program KKG/MGMP secara legal, mandiri, bermutu, dan berkelanjutan. Standar pengembangan KKG/MGMP merupakn unsur-unsur yang harus dimiliki oleh KKG/MGMP yang mencakup organisasi, program, pengelolaan, sarana dan prasarana, sumber daya manusia, pembiayaan, dan penjaminan mutu.

Melalui standar pengembangan ini, KKG/MGMP diharapkan menjadi lebih eksis dalam berkiprah dan ikut serta mengembangkan profesionalisme guru, sehingga bisa memberikan sumbangsih besar dalam peningkatan mutu pendidikan nasional.

Yang ingin mengetahui lebih lanjut standar ini, silakan unduh di sini! ***
(Baca lanjutannya ....)

Profesionalisme Kepala Sekolah Perlu Ditingkatkan

dirjen PMPTKKepala sekolah memiliki peran strategis dalam pengembangan sekolah. Untuk itu, kepala sekolah dituntut memiliki kompetensi dan profesionalisme yang memadai. Untuk memperlancar tugasnya maka perlu diadakan pendidikan dan pelatihan, serta penyiapan para calon kepala sekolah/madrasah dan pengembangan keprofesian berkelanjutan.

Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Nasional Baedhowi mengatakan, terdapat korelasi langsung antara kompetensi kepala sekolah dengan pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah. "Jika kualitas kompetensi kepala sekolah tinggi maka ada korelasi yang bagus dalam melaksanakan proses pembelajaran," katanya saat memberikan keterangan pers tentang implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendikasn) No.28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru menjadi Kepala Sekolah di Kemdiknas, Jakarta, Jumat (29/20).

Pada acara yang dipandu oleh Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemdiknas M.Muhadjir hadir Direktur Profesi Pendidik Ahmad Dasuki dan Direktur Tenaga Kependidikan Surya Dharma.

Baedhowi menyampaikan, Undang-Undang No.14/2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan persyaratan guru minimal berkualifikasi S1/D4. Oleh karena itu, kata dia, persyaratan kepala sekolah yang diatur dalam Permendiknas ini mengacu pada undang-undang tersebut. Ketentuan lain yang diatur dalam Permendiknas ini adalah terkait penyiapan calon kepala sekolah.

"Dulu kepala sekolah dipilih saja oleh kepala daerah, tetapi sekarang untuk menjadi kepala sekolah perlu ada persiapan-persiapan. Ada proses-proses administrasi maupun proses akademik yang harus dilakukan untuk menjadi calon kepala sekolah," katanya.

Lebih lanjut Baedhowi mengatakan, setelah calon kepala sekolah dipilih maka harus mengikuti proses pendidikan dan pelatihan minimal 100 jam dan praktik lapangan minimal tiga bulan. Untuk menjadi kepala sekolah, kata dia, harus ada suatu bukti bahwa mereka itu kompeten dan punya suatu keterampilan manajerial di dalam mengelola sekolah. "Diharapkan implementasi di lapangan tidak menentukan kepala sekolah hanya karena like and dislike, tetapi ada satu proses," ujarnya.

Baedhowi mengatakan, dalam proses pengangkatan kepala sekolah/madrasah melalui penilaian akseptabilitas oleh tim pertimbangan pengangkatan kepala sekolah/madrasah yang ditetapkan oleh pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota atau penyelenggara sekolah/madrasah yang dilaksanakan oleh masyarakat sesuai dengan kewenangannya. "Anggotanya pun juga ada unsur pengawas," katanya.

Adapun masa tugas kepala sekolah/madrasah untuk satu kali masa tugas selama empat tahun. Namun, dapat diperpanjang satu kali masa tugas bila memiliki prestasi kinerja minimal baik. "Kalau sudah dua periode boleh diangkat kembali, tetapi pada sekolah yang lain dengan prestasi amat baik," ujar Baedhowi.

Dengan berlakunya permendiknas ini maka Kepmendiknas No.162/U/2003 tentang Pedoman Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah dinyatakan tidak berlaku. Pada kesempatan yang sama, Baedhowi menyampaikan Permendiknas No.22/ 2010 sebagai perubahan Permendiknas No.47 Tahun 2007 tentang Inpassing Guru Non-PNS.

Dijelaskan, guru-guru di bawah naungan yayasan agar mendapatkan tunjangan profesi layaknya guru-guru PNS lainnya maka perlu dilakukan inpassing atau penyetaraan. Hal ini dilakukan agar pembayaran tunjangan profesi setara dengan guru PNS. "Dalam sertifikasi, baik guru PNS maupun non-PNS akan mendapatkan tunjangan profesi satu kali gaji pokok,"katanya.

Baedhowi menyebutkan, jumlah guru yang telah melakukan inpassing untuk tingkat pendidikan dasar sebanyak 6.430 orang dan untuk tingkat pendidikan menengah sebanyak 3.641 orang. Total sebanyak 10.071 orang.

Kemdiknas, kata Baedhowi, melalui Permendiknas No.27/2010 tentang Program Induksi bagi Guru Pemula, akan melakukan pembimbingan bagi guru pemula agar menjadi guru profesional. Caranya, kata dia, dilakukan dengan pembimbingan dari guru-guru senior dan kepala sekolah, serta pengawas. Masa induksi selama satu tahun dan dapat diperpanjang satu tahun. "Jika dalam dua tahun tidak bisa akan dialihfungsikan tidak menjadi guru, sehingga guru-guru yang betul-betul diangkat nanti yang profesional," katanya. ***

Sumber: www.kemdiknas.go.id
(Baca lanjutannya ....)

UN Akan Tetap Dijalankan

UNPresiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memerintahkan kepada Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), untuk mengevaluasi Ujian Nasional (UN) 2010. Menindaklanjuti instruksi tersebut Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, telah melaksanakan berbagai analisis dan langkah konkret yang dianggap perlu.

"Sudah dilakukan beberapa analisa terhadap posisi UN baik dari sisi kedudukan hukum, landasan filosofis, landasan pedagogis, juga berbagai data-data empiris tentang apa yang dilakukan negara-negara disekitar kita dan di dunia dengan mengambil data-data UNESCO, dan atase pendidikan dan kebudayaan kita di 14 negara," kata Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal saat rapat dengan Komisi X DPR RI, Komite Sekolah, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), dan perwakilan perguruan tinggi , di Hotel Nikko Jakarta, Jumat (15/10).

Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan, baik Komisi X DPR RI, BSNP, Komite Sekolah, dan Perguruan Tinggi, menganggap UN masih perlu dilakukan, sampai ditemukan formula baru untuk mengevaluasi pembelajaran. Dalam rapat tersebut, Ketua Panitia Kerja Komisi X DPR RI Ruli Choirul Azwar melemparkan tiga opsi pelaksanaan UN kepada forum.

Opsi yang pertama, UN jalan terus,dan dianggap tidak ada masalah dalam penyelenggaraannya. Namun jika hal tersebut yang dilakukan, maka UN akan tetap menjadi kontroversi, sepanjang mutu pendidikan belum seragam, dan pelaksanaannya yang serentak itu belum menjamin adanya pengawasan yang baik dan tidak menimbulkan kecurangan.

Opsi yang kedua, UN bisa berjalan seperti sekarang, dengan syarat penyempurnaan terhadap beberapa hal yang mampu mengatasi faktor ketidakadilan akibat standar mutu pendidikan yang beragam. "Bagaimana formulanya kita cari nanti, begitu juga faktor penyelenggaraan yang menimbulkan kecurangan, akan menyempurnakan kebijakan-kebijakan UN ini," kata Ruli.

Kelemahannya, menurut Ruli, memang sulit mencari solusi atau formula yang bisa mengatasi masalah UN sebagai penentu kelulusan. Atau, bagaimana mencari model pengawasan yang efektif, apa penyelenggaraan yang bisa di ubah, atau apakah pengawasannya bisa dilakukan melibatkan unsur independen.

Opsi yang ketiga, UN dapat dilanjutkan, tetapi hanya untuk pemetaan standar mutu pendidikan. Bukan sebagai penentu kelulusan. Namun jika UN hanya dilakukan sebagai cara untuk memetakan standar mutu pendidikan, menurut Rektor Universitas Negeri Medan Syawal Gultom, hanya akan menghabiskan uang negara saja.

Karena menurutnya, tidak akan ada semangat juang siswa dan guru dalam menghadapi UN. Syawal mengatakan, saat ini semua pihak harus berjuang untuk melaksanakan UN yang kredibel, dan bukan lagi mempertanyakan UN berlawanan dengan UU atau tidak. "Tidak mungkin UN itu bertentangan dengan hakikat pendidikan, UU yang ada. Kalau ada, itu pelaksanaannya yang tidak sempurna ," kata Syawal.

Berbicara mengenai UN, sebagai representasi yang bersentuhan langsung ke pemangku kepentingan sekolah, wakil dari Komite Sekolah Bambang Sutomo mengatakan, dinamika semangat belajar meningkat signifikan. Memang baru menonjol pada kelas-kelas akhir, karena kelas akhir fokus pada menghadapi UN. "Ini hal yang positif, untuk konsentrasi proses peningkatan semangat itu, kami dihadapkan pada permintaan siswa itu sendiri untuk membentuk kelompok belajar," kata Bambang. Dampak positif yang lain dengan adanya UN adalah orang tua dituntut memberi perhatian.

Bambang akan tetap mendukung pelaksanaan UN, karena masih menjadi sarana evaluasi. "Jadi sebelum ada metode evaluasi yang lebih baik, kenapa kita harus meniadakan UN. Dan kami siap mengawal berjalannya UN," kata Bambang.

Kurikulum satuan pendidikan yang dikembangkan di Indonesia sudah sesuai dengan Undang-Undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19. UU tersebut memuat standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sehingga, kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada dasarnya merupakan kurikulum berbasis kompetensi. Oleh karena itu, assessment/penilaian berfungsi untuk mengetahui standar kompetensi mana yang dimiliki oleh peserta didik atau yang belum dimiliki.

Ketua BSNP Djemari Mardapi mengatakan, informasi mencapai standar kompetensi diperoleh melalui pengukuran/pengujian. Pengukuran/pengujian informasi diperoleh dengan melalui tes/ujian. Ada ujian sekolah, ada UN. Sedangkan akuntabilitas sekolah bisa dilihat dari kompetensi yang dimiliki peserta didik, apa betul sekolah itu sudah melakukan fungsinya dalam melakukan proses pembelajaran. Kemudian, akuntabilitas kompetensi yang dimiliki peserta didik dalam pelajaran tertentu, pendidik juga bertanggung jawab. "Oleh karena itu perlu penilaian yang sistematis mengikuti prosedur yang baku. Kemudian assessment yang kita harapkan menggunakan aturan acuan kriteria, karena kurikulumnya berbasis kompetensi," kata Djemari.

Djemari menambahkan, standar nasional pendidikan merupakan kompetensi minimal yang harus dimiliki peserta didik. Pengujian dilakukan untuk mengetahui tingkat kompetensi peserta didik, apa betul sudah mencapai kompetensi minimal itu. Jika belum, lakukan program perbaikan. Ini prinsip dari kurikulum berbasis kompetensi. ***

Sumber: www.kemdiknas.go.id
(Baca lanjutannya ....)

Tata Krama Murid-Guru Tentukan Pendidikan Karakter

tata kramaPendidikan karakter yg dibangun saat ini seharusnya akan menyegarkan dan menyehatkan. Demikian disampaikan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh saat menjadi pembicara kunci pada Seminar Nasional "Merekonstruksi Sistem Pendidikan Indonesia", Minggu (10/10), di Hotel Gran Senyiur, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Mendiknas mengatakan, dalam menyukseskan pendidikan karakter ada tiga aspek yang harus dirombak. Pertama, tata krama antara hubungan murid dan guru. "Dari tata krama itulah akan kelihatan, hubungan murid dan guru tersebut adalah transaksi kemuliaan atau transaksi bisnis," kata Menteri Nuh.

Kedua, hakikat dari ilmu itu sendiri yang harus ditata kembali. Dan ketiga, metodologi belajar mengajar yang harus dibenahi. Berkenaan dengan pembenahan metodologi belajar mengajar, Menteri Nuh meminta agar para praktisi pendidikan tidak cepat tergiur dengan metode-metode yang ada di luar negeri, tanpa memikirkan kecocokan dengan metode sendiri. Menurut dia, di setiap struktur sosial, setiap bangsa memiliki budaya masing-masing, oleh karena itu metodologinya pun berbeda.

"Bukan anti luar negeri, tetapi tidak juga serta-merta melakukan penyesuaian dengan yang kita punya," kata Menteri Nuh. Mendiknas juga berharap, guru sebagai salah satu unsur penentu keberhasilan pendidikan karakter saat ini bisa meningkatkan kualitas diri. Anggaran yang dialokasikan untuk kesejahteraan guru dan dosen mencapai 70 persen dari total APBN untuk pendidikan. Diharapkan, dengan kesejahteraan guru yang meningkat, mampu mendongkrak pendidikan karakter saat ini dan nanti.

Mendiknas menilai penting menanamkan nilai-nilai kejujuran sedini mungkin. "Menjadi diri sendiri dan mampu membagi waktu juga merupakan bagian penting dalam pendidikan karakter. Dan yang tidak kalah penting adalah optimisme," tuturnya. ***

Sumber: www.kemdiknas.go.id
(Baca lanjutannya ....)

Workshop Penguatan Tim Pengembang Kurikulum Prov. Jateng

Oleh: Sawali Tuhusetya

Senin-Rabu, 4-6 Oktober 2010, yang lalu, saya bersama 29 guru yang tergabung dalam Tim Pengembang Kurikulum (TPK) Prov. Jawa Tengah, 8 Kepala TK Pembina, 11 Pengawas TK/SD, dan 11 Kepala SD RSBI se-Jawa Tengah mengikuti Workshop Penguatan TPK, khususnya berkaitan dengan implementasi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa (PBKB). Dalam workshop yang berlangsung di LPMP Jawa Tengah dan dibuka oleh Kepala Seksi SMP Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Prov. Jawa Tengah, Johny Lorang tersebut disajikan materi umum tentang kebijakan pemerintah di bidang Pendidikan Dasar, 6 materi pokok (kebijakan Pemerintah tentang pendidikan karakter, pembinaan nasionalisme dan karakter bangsa, belajar aktif, kewirausahaan, pengembangan KTSP, dan paparan rintisan implementasi PBKB jenjang TK, SD, SMP), dan materi penunjang tentang Rencana Kerja dan Tindak Lanjut Kegiatan.

Tujuan penyelengaraan workshop, antara lain (1) menyamakan persepsi penyelenggaraan PBKB serta pendidikan nasionalisme dan kebangsaan; (2) memberikan pemahaman dalam menerapkan pendekatan pembelajaran aktif yang menekankan pada pengembangan pendidikan karakter, kewirausahaan, serta ekonomi kreatif yang terintegrasi dalam KTSP; dan (3) memberikan pengetahuan tentang sekolah rintisan implementasi PBKB, sekolah piloting pembinaan nasionalisme melalui jalur pendidikan.

karakterNarasumber utama dari Pusat Kurikulum (Puskur) Kemdiknas, Pak Zulkifri Anas, mengungkapkan bahwa karakter pada hakikatnya merupakan suatu sifat yang mewujud dalam bentuk daya dorong/daya juang dari dalam ke luar (inside out) yang dibangun/dibentuk melalui perpaduan dari nilai-nilai moral yang diinternalisasikan dari luar dan potensi dari dalam yang akan melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku dalam wujud kebajikan dan penampilan terpuji. Dalam perspektif demikian, pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif, dan kreatif.

Secara teknis, pendidikan budaya dan karakter bangsa diartikan sebagai proses internalisasi serta penghayatan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang dilakukan peserta didik secara aktif dibawah bimbingan guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan serta diwujudkan dalam kehidupannya di kelas, sekolah, dan masyarakat. Dalam konteks demikian, karakter tidak cukup sekadar diajarkan, tetapi justru perlu ditularkan melalui keteladanan.
workshopworkshopworkshopworkshopworkshopworkshopworkshopworkshopworkshopworkshopworkshopworkshop


Persoalannya sekarang, di tengah kompleksitas persoalan kemasyarakatan dan kebangsaan yang sudah kian mengarah pada situasi dan atmosfer peradaban yang sakit yang ditandai dengan maraknya perilaku kekerasan, anarki, vandalisme, korupsi, dan berbagai aksi anomali sosial yang lain, mampukah institusi pendidikan kita menjalankan fungsinya untuk mengimplementasikan pendidikan budaya dan karakter bangsa secara simultan dan berkelanjutan hingga mampu mencapai tujuan yang diharapkan?

.... proses internalisasi pendidikan budaya dan karakter ke dalam institusi pendidikan di tengah rumit dan kompleksnya persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan justru perlu dimaknai sebagai cara Tuhan untuk meningkatkan derajat dan kualitas hidup bangsa kita.Dengan nada optimis, Pak Zul, demikian kami menyapanya, mengungkapkan bahwa Tuhan tidak akan pernah memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Artinya, setiap manusia memiliki “fitrah” potensial untuk mengatasi setiap masalah yang dihadapi. Semakin rumit dan kompleks persoalan yang dihadapi akan semakin teruji dan kian berkualitas pula kehidupan seseorang. Berkaitan dengan proses internalisasi pendidikan budaya dan karakter ke dalam institusi pendidikan di tengah rumit dan kompleksnya persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan justru perlu dimaknai sebagai cara Tuhan untuk meningkatkan derajat dan kualitas hidup bangsa kita.

“Yang perlu terus didorong adalah membangkitkan kekuatan internal untuk memberikan tekanan yang lebih kuat sehingga kekuatan eksternal yang negatif bisa teratasi,” tegas alumnus Curtin University of Technology Perth, Australia (1997) itu. Ia mencontohkan, ketika seseorang sering menggunakan kata penghubung “tetapi” setiap kali menghadapi masalah, yang terjadi kemudian adalah sikap gampang menyerah dan mudah patah arang. “Gunakan kata walaupun, untuk memperkokoh kekuatan internal dari dalam diri kita,” lanjutnya.

“Kami ingin menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa, tetapi kekerasan dan korupsi yang terjadi di luar sana begitu merajalela, sehingga kami tak mungkin sanggup untuk membangun karakter dan kepribadian siswa yang tangguh”.

Kami akan terus berusaha menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa, walaupun kekerasan dan korupsi yang terjadi di luar sana begitu merajalela!Contoh ungkapan semacam itu, dalam pandangan Pak Zul, akan makin mengendurkan semangat kita untuk membangun peradaban bangsa yang lebih bermartabat. Alangkah inspiratifnya jika ungkapan tersebut diubah menjadi: “Kami akan terus berusaha menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa, walaupun kekerasan dan korupsi yang terjadi di luar sana begitu merajalela!” Ungkapan tersebut, menurutnya, akan mampu memberikan spirit bagi pendidik untuk membangun karakter generasi masa depan yang tangguh.

Ya, ya, sebuah pernyataan sikap yang sederhana, tetapi penuh makna. Setidaknya, ada 18 pendidikan budaya dan karakter bangsa yang perlu ditanamkan kepada peserta didik melalui bangku pendidikan, sebagaimana tergambar dalam tabel berikut:
No. Nilai Deskripsi
1 Religius sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain).
2 Jujur perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3 Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4 Disiplin tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5 Kerja Keras perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6 Kreatif berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7 Mandiri sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8 Demokratis Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9 Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10 Semangat Kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11 Cinta Tanah Air Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12 Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13 Bersahabat/Komunikatif Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14 Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15 Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16 Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17 Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18 Tanggung-jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.


Secara bertahap dan berkelanjutan, ke-18 nilai tersebut bisa ditanamkan kepada peserta didik melalui kegiatan Ekstrakurikuler, Bimbingan Konseling, Pembiasaan (Terprogram, Rutin, Spontan, dan keteladanan), integrasi dalam mata pelajaran, dan Muatan Lokal (Mulok).

Semoga upaya mulia untuk membangun generasi masa depan yang berkarakter dan berkepribadian kuat benar-benar bisa terwujud. Tetap semangat dan salam peduli anak bangsa! ***
(Baca lanjutannya ....)

Pendidikan Berhasil Tingkatkan Daya Saing Indonesia

Daya saing Indonesia pada tataran global menunjukkan peningkatan. Peringkat Indonesia dalam The Global Competitiveness Report 2009-2010 atau Global Competitiveness Index (GCI) naik dari 54 per 133 negara pada 2009, menjadi 44 per 139 negara pada 2010.

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh menyampaikan, ada tiga komponen utama dari 12 komponen yang mempengaruhi peningkatan daya saing Indonesia. Komponen itu adalah kondisi makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, serta pendidikan tinggi dan pelatihan. "Komponen pendidikan mengalami kenaikan dan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan daya saing Indonesia," katanya kepada wartawan di Kemdiknas, Jakarta, Jumat (17/9).

Nuh menjelaskan, berdasarkan GCI 2009-2010, skor kondisi makroekonomi Indonesia 4,8 di peringkat 54 dari 133 negara. Posisi Indonesia, berdasarkan GCI 2010-2011, skornya naik menjadi 5,2 dan menempati peringkat 44 dari 139 negara. "Makroekonomi kita bagus nilainya," ujarnya.

Adapun komponen-komponen pada GCI adalah kelembagaan, infrastruktur, kondisi makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar, efisiensi pasar kerja, perkembangan pasar uang, kesiapan teknologi, ukuran pasar, kecanggihan bisnis, dan inovasi.

Skor komponen kesehatan dan pendidikan dasar naik dari 52 menjadi 5,8 dan peringkatnya naik dari 82 ke 62. Sementara untuk pendidikan tinggi dan pelatihan skornya naik dari 3,9 ke 4,2 dan peringkatnya naik dari 69 ke 66. "Pendidikan punya kontribusi besar dalam menaikkan ranking," katanya.

Mendiknas memerinci, perubahan peringkat GCI Indonesia terkait pendidikan pada komponen pendidikan dasar dipengaruhi oleh kualitas pendidikan dasar dari peringkat 58 pada 2009-2010 naik ke 55 pada 2010-2011. Kemudian, partisipasi pendidikan dasar dari peringkat 56 ke 52. Adapun pada komponen pendidikan tinggi dan pelatihan dipengaruhi oleh partisipasi pendidikan tinggi dari peringkat 90 ke 89, kualitas sistem pendidikan dari peringkat 44 ke 40, kualitas matematika dan sains dari peringkat 50 ke 46, dan akses internet di sekolah dari peringkat 59 ke 50.

Komponen lainnya yang mempengaruhi peningkatan daya saing Indonesia adalah inovasi. Berada di peringkat 39 pada 2009-2010 naik ke 36 pada 2010-2011. Komponen ini dipengaruhi tiga faktor yaitu kualitas lembaga penelitian, kerja sama penelitian industri dengan perguruan tinggi, dan ketersediaan ilmuwan dan ahli teknik. Faktor kerja sama penelitian industri dengan perguruan tinggi memberi kontribusi kenaikan peringkat dari 43 ke 38. ***

Sumber: www.kemdiknas.go.id
(Baca lanjutannya ....)

Partisipasi Sekolah Siswa Miskin Cenderung Naik

siswa miskinPartisipasi sekolah siswa dari keluarga termiskin mengalami kenaikan. Berdasarkan data Susenas 2004-2009, angka partisipasi murni (APM) sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah siswa dari golongan keluarga termiskin meningkat dari 49,97 persen pada 2004 menjadi 61,89 persen pada 2009.

"Anak-anak yang latar belakang ekonomi sangat miskin pun punya kesempatan untuk masuk SMP," kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh saat memberikan keterangan pers di Kemdiknas, Jakarta, Jumat (17/9/2010).

Mendiknas menyampaikan, tren kenaikan ini diikuti dengan semakin kecilnya gap APM siswa termiskin dengan siswa dari golongan keluarga terkaya. Dijelaskannya, pada 2004 gap APM siswa termiskin dibandingkan siswa terkaya mencapai 30 persen. Pada 2009, jaraknya hanya tinggal tujuh persen. "Gap-nya sudah semakin kecil dan trennya naik," ujarnya.

Mendiknas melanjutkan, tren kenaikan partisipasi sekolah siswa miskin juga terjadi pada jenjang sekolah menengah atas (SMA). Angka partisipasi kasar (APK) SMA/SMK/MA 2003 siswa termiskin 23,2 persen naik menjadi 39,1 pada 2008 dan 54,3 persen pada 2009. "Intervensi bantuan operasional sekolah (BOS) memastikan kenaikan ini," katanya.

Kenaikan ini juga diiringi dengan berkurangnya gap partisipasi sekolah siswa termiskin dan terkaya. APK SMA/SMK/MA siswa terkaya 81,7 persen pada 2003 menjadi 79,5 persen pada 2009. Gap APK siswa termiskin dibandingkan dengan siswa terkaya berkurang dari 58,5 persen menjadi 25,2 persen. Nilai penurunannya 33,3 persen.

Pada jenjang pendidikan tinggi APK siswa termiskin naik dari 0,98 persen pada 2003 menjadi 6,31 pada 2009. Adapun APK siswa terkaya tidak mengalami perubahan signifikan dari 31,3 padan 2003 menjadi 32,6 pada 2009. "Ada kenaikan, tetapi harus digenjot lagi," ujar Mendiknas.

Adapun APM untuk jenjang sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) tidak mengalami tren kenaikan yang signifikan. APM SD/MI siswa termiskin pada 2003 91,4 persen, sedangkan pada 2009 93,2 persen. Persentase gap antara siswa termiskin dan terkaya pun tidak mencolok. APM SD/MI siswa terkaya pada 2003 91,6 persen, sedangkan pada 2009 94,4 persen.

"Untuk urusan SD atau MI itu gap antara terkaya dan termiskin hampir tidak ada, hanya satu persen. Artinya anak-anak yang latar belakang sangat miskin maupun sangat kaya semuanya bisa masuk ke SD," ujar Menteri Nuh. ***

Sumber: www.kemdiknas.go.id
(Baca lanjutannya ....)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H

idul fitri


Tanpa terasa lebaran tahun 1431 H telah tiba. Dalam waktu setahun ini, mungkin sudah tak terhitung kesalahan dan kekhilafan yang telah kami lakukan. Oleh karena itu, pada moment yang penuh kebahagiaan ini, segenap keluarga besar SMP Negeri 2 Pegandon Kabupaten Kendal-Jawa Tengah mengucapkan:


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H
Minal Aidin Wal Faizin
Mohon Maaf Lahir Dan Batin
Semoga kita semua bisa kembali ke fitrah-Nya, amiiin.


***

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H
(Baca lanjutannya ....)

Dana Alokasi Khusus SMP Mulai Disalurkan

kemendiknasSebanyak Rp 3,7 triliun dana alokasi khusus (DAK) bidang pendidikan untuk jenjang sekolah menengah pertama (SMP) 2010 mulai disalurkan. Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh menyatakan hal tersebut menyusul telah selesainya petunjuk teknis (juknis) penggunaan DAK SMP 2010, masing-masing untuk bangunan fisik, alat peraga, dan buku.

"Hari ini mulai disosialisasikan. DAK SMP Rp 3,7 triliun susah bisa dilepas," katanya pada Sosialisasi DAK Bidang Pendidikan Tahun Anggaran 2010 di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Rabu (1/11/2010) malam.

Hadir pada acara para pejabat eselon I dan II Kemdiknas, 33 kepala subdinas pendidikan dasar dinas pendidikan provinsi, dan 451 kepala dinas pendidikan kabupaten/kota penerima DAK. Mendiknas menyebutkan, sebanyak 40 persen DAK untuk jenjang sekolah dasar (SD) juga mulai disalurkan dengan telah selesainya juknis untuk bangunan fisik dan buku. "Dalam waktu secepatnya finalisasi juknis alat peraga untuk SD," ujarnya.

Pemerintah pada 2010 menyalurkan DAK 2010 sebanyak Rp5,6 triliun untuk SD, dan Rp 3,733 triliun untuk jenjang SMP. Total anggaran Rp 9.334 triliun. "Besaran DAK bisa berubah dikaitkan dengan kapasitas fiskal, jumlah siswa, dan populasi penduduk," ujar Mendiknas.

Menteri Nuh menyampaikan, pelaksanaan DAK pada 2010 mengalami beberapa perubahan. Dia menjelaskan, pada tahun 2009 penyaluran DAK menggunakan pendekatan swakelola dan langsung masuk ke rekening sekolah. Mulai 2010, berpatokan pada Peraturan Presiden No 54/2010 sebagai pengganti Keputusan Presiden No.80/2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah maka penyaluran DAK bergeser dari swakelola menjadi mekanisme pelelangan. "Banyak fleksibilitas (di Perpres No.54/2010) dalam menentukan pengadaan jika dibandingkan dengan Kepres 80/2003," katanya.

Perubahan lainnya, juknis DAK pada 2009 ditetapkan pemerintah bersama dengan masukan dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Namun, kata Mendiknas, mengacu pada UU APBN-P pada Mei 2010 maka juknis DAK harus mendapatkan persetujuan DPR. "Di dalam UU APBN-P secara eksplisit (dinyatakan) bahwa petunjuk teknis pelaksanaan DAK harus mendapatkan persetujuan dari DPR," katanya.

Kebijakan DAK bidang pendidikan dialokasikan untuk menunjang program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang bermutu dan merata. Sasaran program DAK bidang pendidikan tahun anggaran 2010 dialokasikan untuk SD/SDLB dan SMP negeri maupun swasta.

Adapun jumlah provinsi penerima DAK sebanyak 32 provinsi (DKI Jakarta tidak menerima), sedangkan jumlah kabupaten/kota penerima DAK sebanyak 451 kabupaten/kota. Setiap kabupaten/kota penerima DAK wajib menyediakan dana pendamping dari APBD minimal sebanyak 10 persen dari alokasi dana yang diterima. ***

Sumber: kemdiknas.go.id
(Baca lanjutannya ....)

AIR MATA SAHABAT

Oleh Sardono Syarief

air mata sahabatM. Jan bingung. Dua hari lagi hasil ujian akan diumumkan. Hatinya gundah. Bertanya-tanya sendiri antara lulus atau tidak? Jika saja lulus, mau apa dia? Sedang harapan untuk bisa melanjutkan, amat tidak mungkin. Ini semua oleh keadaan dirinya. Karena ternyata ibu dan bapaknya lima tahun silam telah tiada. Mereka telah dipanggil Tuhan bersama sunami yang menimpa daerahnya.

“Akh….! Beginikah nasib hidup tanpa ada kedua orang tua?”keluh hati kecil M. Jan merenungi derita hidupnya. “Mungkin! Mungkin seperti ini,”sambungnya. “Tapi….,”masih dalam hati kecil M. Jan. “Siapa pula teman yang hidup menderita sepertiku di dunia ini? Apakah hanya aku seorang diri? Akh……..!”desah M. Jan seraya menggeser letak duduknya di sejengkal batu kali yang teronggok di bawah pohon mangga dekat lapangan sepak bola.

“Orang tua telah tiada. Kakak-adik tak punya. Anak tunggalkah aku? Anak malangkah aku? Akh………!”ketika merenungi nasibnya seperti itu, mengalirlah titik-titik air mata M. Jan lewat kedua belah pipi kusutnya dengan deras.

“Sekolah? Memang seperti teman-teman, aku sekolah. Pandai? Aku pun cukup pandai untuk ukuran di kelas enamku. Namun, bahagiakah hidupku? Akh….!”lagi-lagi nafas M. Jan mendesah panjang.

“Seandainya besok aku lulus,”kata hati M. Jan ragu-ragu. “Sudikah Pak Edi melanjutkan sekolahku? Sementara tanggungan sekolah anaknya masih ada tiga. Satu di SMA, satu di SMP, dan satunya lagi masih di kelas 4 SD? “

“Adapun aku………? Ya. Siapakah aku? Oleh Pak Edi dan keluarga, aku cuma diakuinya sebagai anak asuh. Ya, hanya sebatas anak asuh sajalah kedudukanku. Anak yang sehari-hari bila sepulang sekolah tak luput dari kegiatan begini. Siang merumputkan kambing, sekaligus menggembalakannya di tengah lapang. Sore menyapu halaman dan mengisi bak mandi. Itu saja belum cukup! Masih ada kerja lainnya lagi. Misal; menyemir sepatu dan mengelap sepeda motor Pak Edi setiap pagi tiba. Ah….! Sebuah pengabdiankah ini namanya…?”

Hati M. Jan terus berkecamuk. Kedua matanya terlihat kuyu. Tenaganya terasa lunglai. Semangat hidupnya jadi lemah. Untuk menahan kekuatan tubuhnya, M. Jan menyandarkan badannya pada sebatang pohon mangga yang berdaun rindang. Satu-satunya pohon besar yang tumbuh tegar di gundukan tanah tepi lapang. Lurus-lurus kedua kakinya diselonjorkan ke depan. M. Jan menikmati sepoi angin bertiup di tengah suasana panas kemarau. Irama desah dedaunan mangga tempatnya berteduh, sempat sedikit menghibur kegundahan hatinya.

“Embeeek….! Embeeeekkkk…! Embeeeeeeeeekkkkk…..!” salah seekor dari kelima kambing yang digembalanya mengembik-embik.
“Ah! Kenapa itu kambingku?” perhatian M. Jan seketika beralih dari lamunannya yang tak jelas arah.

“Di manakah kambing-kambingku berada?” pandangan anak itu mencari-cari di mana keberadaan sekelompok kambingnya.

“Ah, rupanya jauh sudah kambing-kambingku berada,”kata hati anak itu. Tahu hal tersebut, M. Jan segera bangkit. Kemudian cepat-cepat dia mengejar kambing-kambing itu untuk dibawanya kembali ke tengah lapang.

“Hai..! Kalian semua tak lapar, bukan? Mengapa harus mengembik-embik? Ha…..? Mengapa, kambing-kambingku yang manis?”tanya M. Jan kepada kelima ekor kambingnya seperti layaknya bertanya kepada Tarso, teman bermainnya saja. Lucu anak itu memang. Sudah tahu kalau dirinya tak bakal mendapatkan jawaban dari kelima kambingnya, namun pertanyaan semacam itu biasa nerocos setiap hari dari mulutnya yang bergigi ompong satu di bagian depan.

Setelah dituntunnya kembali kelima kambingnya ke tengah lapang, M. Jan segera meninggalkan mereka di sana. Selagi anak itu menuju ke tempat duduknya yang semula, tiba-tiba datang dari arah timur Sutarso, teman sepenggembalaan sekaligus kawan sekelas yang cukup akrab.

“Hallo, Jan! Apa kabar, Kau?”seru Tarso sembari menggiring keenam ekor kambingnya mendekat M. Jan.

Belum sempat M. Jan menjawab, Sutar bertanya lagi,“Sudah lamakah kau berada di sini?”

“Sudah. Sudah sekitar dua jam yang lalu aku tiba di sini, Tar,”sahut M. Jan agak panjang. “Kabarku baik-baik saja. Bagaimana pula dengan kabarmu?”balik M. Jan seraya lurus-lurus matanya memandangi temannya yang bertubuh langsing itu.

“Alhamdulillah. Kabarku baik-baik juga, Jan,”jawab Sutarso seraya tersenyum.

Setelah dibiarkan keenam kambingnya mencari rumput di tengah lapang, Sutarso segera menggandeng lengan M. Jan.

“Ayo, kita berteduh di sana!”M. Jan diajaknya duduk-duduk di atas gundukan batu di bawah pohon mangga rindang tempat keduanya biasa berteduh.

“Maaf, Jan!”Tarso mulai membuka perbincangan.

“Ya?”pandangan M. Jan lurus-lurus ke arah Sutarso.

“Kalau besok sekolahmu lulus, ke mana kau akan meneruskan, Jan?”Tarso meneruskan pertanyaan.

“Ah….!”M. Jan menarik nafas panjang. Dipalingkan mukanya ke arah kelima kambingnya berada. Kembali pikiran anak itu gundah. Tak tahu ia harus menjawab apa pada Sutarso, teman akrabnya.

“Kenapa kau tampak gelisah begitu, Jan?” desak Sutar ingin tahu.
M. Jan bingung. Ia tak segera dapat menjawab pertanyaan temannya yang satu ini. Ditatapnya mata Sutarso dengan tajam. Terbaca dari sinar matanya, kalau anak itu sangat mengharap pengertian Sutarso.

M. Jan sesaat terlihat menelan ludah lewat lehernya yang tampak kurus. Lalu dengan wajah menunduk, anak lelaki itu berkata,”Aku tidak tahu apa-apa, Tarso,” M. Jan tampak sedih. “Kurasa pada setiap anak yang normal, pasti ada keinginan untuk meneruskan sekolah. Punya satu cita-cita untuk masa depan seperti aku juga. Namun…..”

“Namun, apa, Jan?”sahut Tarso ingin segera mengerti.

“Seperti yang kau tahu, siapa sebenarnya aku ini?”jawab M. Jan dengan nada tak semangat. “Tak lebih, aku hanyalah anak asuh Pak Edi. Segalanya serba tergantung pada keputusan keluarganya. Mau sekolahku diteruskan atau tidak, itu tergantung dari pertimbangan keluarga Pak Edi, bukan?”

Sekejap M. Jan diam. Sutarso pun menunduk seakan ikut hanyut dalam kesedihan temannya. Keduanya saling membisu.
Sejauh itu, di atas tengah lapang tampak beterbangan ratusan capung kian kemari dengan gembira. Terbangnya seperti mengajak bercanda dengan banyak kambing milik M. Jan maupun Sutar yang tengah larut pada kering rumput.

“Sutar!”ucap M. Jan kemudian dengan suara lirih.

“Iya?”Sutarso mengangkat muka.

“Yang jelas, andaikata orangtuaku masih hidup seperti orangtuamu,”sambung M. Jan memecah keheningan. “Tentu aku punya cita-cita tinggi dan pantang menyerah untuk terus sekolah.”

“Apa yang sebenarnya engkau cita-citakan, Sobatku?”tanya Sutarso dengan perasaan iba.

“Sesungguhnya aku ingin menjadi seorang guru, Teman.”

“Guru?!”sahut Sutarso dengan suara agak serak.

“Ya. Kenapa?”sahut M. Jan dengan tatapan kosong.

“Itu cita-cita yang amat mulia, Temanku! Cita-cita yang sangat luhur. Aku sendiri kelak setelah tamat SMA, ingin kuliah di perguruan tinggi jurusan keguruan, Sobat.”

“Agar jadi Pak Guru, begitu?”

Sutarso mengangguk. Tersipu agaknya. Karena cita-cita tersebut harus ditempuhnya masih cukup lama. Bukankah untuk kuliah di perguruan tinggi terlebih dulu harus tamat SD, SMP, kemudian SMA?

“Meski masih diperlukan waktu yang cukup panjang, aku ikut berdoa untukmu, Tarso,”ujar M. Jan dengan hati tulus. “Mudah-mudahan cita-citamu untuk menjadi guru akan dapat tercapai dengan cepat, Sobatku,” lanjut M. Jan. “Inilah doaku, teman sepenggembalaan yang hidupnya tak jelas arah. Tak jelas pegangan. Tak jelas cita-cita……!”sambil berkata demikian, tak terasa air mata M. Jan mulai menetes satu demi satu di atas gundukan batu. Basah kedua pipi lusuhnya.

Melihat itu, Sutarso ikut merasa iba. Sekali-sekali air mata M. Jan diseka oleh anak itu dengan ujung kaos oblongnya pelan-pelan. Lama akhirnya mereka berangkulan.***

-------------------------------------
Sardono Syarief

Penulis cerita anak, tinggal di Pekalongan.
d/a Jl. Raya Domiyang No.116, Paninggaran, Pekalongan, Jateng 51164
(Baca lanjutannya ....)

Jateng Juara Festival Seni Nasional

Sejumlah 104 duta Jawa Tengah yang maju ke Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) di Surabaya 14-19 Juni lalu, sukses meraih Juara Umum. Keberhasilan itu merupakan kali kedua, setelah yang pertama pada 2008 silam di Bandung.

Mereka membawa pulang 14 emas, tiga perak, satu perunggu, dua kategori harapan I, dua kategori harapan III, dan satu kategori tujuh terbaik. Tim Jateng juga berhak memboyong piala bergilir dari Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Drs Kunto Nugroho HP MSi bersyukur atas prestasi yang didapat tersebut. "Ini merupakan anugerah Tuhan, mengingat perjuangan yang dilakukan peserta tidak mudah dan kompetisi sangat ketat."

Hasil kejuaraan tersebut antara lain, medali emas tingkat TK diraih Sinta (TK Pembina Salatiga) kategori Melukis. Jenjang SD-Dhani Dwi (SDN 1 Pucung Wonogiri) kategori Kerajinan Tangan, Zalimi (SDN 2 Pegulon Demak) kategori Mengarang Bahasa Indonesia *), dan Alviani (SDN Karanganyar 1 Demak) kategori Pidato Bahasa Indonesia.

Tingkat SLB, yakni Yuliani (SLB A YYAT Klaten) kategori Mengarang dan Bercerita, tingkat SMP Astrid Wirastri Prabandani (SMP 2 Purwokerto) kategori Menyanyi Tunggal, serta Tim diraih SMP 2 Rembang kategori Musik Tradisional. Jenjang SMA Danang Adi W (SMA 1 Salatiga) kategori Poster dan Tim diraih SMA 1 Kebumen kategori Band.

Tingkat SMK, Dewi Nur H (SMK 8 Surakarta) kategori Seni Tari Putri, Kristianto (SMK 8 Surakarta) kategori Seni Tari Putra, Peter Ardiansyah (SMK 8 Surakarta) kategori Seni Musik Nonklasik (Gitaris), Tulus Raharjo (SMK 8 Surakarta) kategori Seni Pedalangan (Garap Lakon), serta Ravik Dwi P(SMK 8 Surakarta) kategori Seni Teater (Sutradara). ***

Catatan:
*) Kemungkinan ada kesalahan nama untuk juara kategori Mengarang Bahasa Indonesia tingkat SD, sebab yang mewakili Jawa Tengah ke tingkat Nasional adalah peserta dari Kendal (Zaima Hilmi SDN 2 Pegulon, Kab. Kendal).

Sumber: Suara Merdeka
(Baca lanjutannya ....)

Korelasi antara Pendidikan dan Kemiskinan

rakerMenteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengadakan rapat kerja dengan Komisi X DPR RI, di Gedung Nusantara I DPR RI, Kamis (17/6) malam. Rapat ini membahas rancangan awal dari rencana strategis pembangunan pendidikan nasional.

Menurut Nuh, harus dibedakan Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasional dengan Pembangunan Pendidikan Nasional. Pembangunan Pendidikan nasional melibatkan tidak hanya Kemdiknas, tetapi juga kementrian dan lembaga terkait yang mendapatkan tugas menunaikan fungsi-fungsi pendidikan, seperti Kementerian Agama, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, dan lainnya.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005 - 2025 telah ditetapkan misi pendidikan adalah sebagai berikut:
- Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila;

- Mewujudkan bangsa yang berdaya saing

- Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum;
- Mewujudkan Indonesia aman, damai, dan bersatu;
- Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan;
- Mewujudkan Indonesia asri dan lestari;
- Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional;
- Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional.

Pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014 disebutkan tugas dari kementerian-kementerian yang terkait dengan dunia pendidikan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk pengembangan kemampuan ilmu dan teknologi. "Sebagai gambaran awal, ada kaitan sangat erat antara pendidikan dengan kesehatan dan penanggulangan kemiskinan. Dari data 2008, kesimpulannya jelas bahwa penduduk kabupaten kota dengan rata-rata lama sekolah yang tinggi cenderung memiliki angka harapan hidup yang tinggi," tutur Mendiknas.

Demikian juga hubungan antara melek aksara dengan tingkat kemiskinan pun sangat erat. Semakin tinggi derajat melek huruf, semakin menurun kecenderungan kemiskinan. "Kesimpulannya urusan pendidikan dan kemiskinan itu ada korelasi positif," kata Mendknas. ***

Sumber: Kemdiknas
(Baca lanjutannya ....)

Pembukaan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2010

Kementerian Pendidikan Nasional akan menyelenggarakan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), pada 14-19 Juni 2010 di Surabaya, Jawa Timur. Festival dan lomba ini akan diikuti siswa siswi tingkat TK, SD, SMP, SMA, SMK dan SLB seluruh Indonesia.

Pembukaan akan dilangsungkan Selasa (15/06) di Gedung Jawa Timur Expo, Surabaya. Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan dan Menengah Suyanto akan membuka acara ini.

Kegiatan ini bertujuan untuk membina dan meningkatkan kreativitas siswa dalam bidang seni dan sastra. Tujuan lainnya adalah untuk menanamkan dan membina apresiasi seni dan sastra, khususnya terhadap nilai-nilai tradisi yang berakar pada budaya bangsa, di samping sebagai sarana promosi potensi siswa kepada dunia industri pariwisata.

Festival menyediakan wahana kompetensi putra-putri terbaik Indonesia dalam mengembangkan minat dan talenta yang dimiliki khususnya di bidang seni. Kegiatan ini juga mengasah kepekaan siswa dalam menghargai seni dan karya orang lain.

Secara keseluruhan jumlah peserta dan tenaga pendukung yang mengikuti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2010 di Surabaya sebanyak 3.353 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.139 siswa adalah siswa SMP, SMA, dan SMK berprestasi dari sekolah negeri maupun swasta yang menjadi peserta festival. Dan 1.056 lainnya merupakan peserta lomba dari SLB, TK, SD, SMP, SMA, dan SMK. ***

Sumber: Kemdiknas
(Baca lanjutannya ....)

Konsep dan Manajemen INS Kayutanam

Konsep Pendidikan di beberapa negara maju seperti Singapura, Jepang, dan Tiongkok ternyata sangat mirip dengan konsep yang ditawarkan oleh Ki. Hajar Dewantara dan Engku Moehammad Syafei. Konsep-konsep pendidikan di tiga negara tersebut sudah ada di negara kita sejak lebih kurang 80 tahun lalu. Sejarah sudah mencatat tokoh-tokoh pendidikan di Indonesia, perjuangan mereka tidaklah mudah.

Kondisi di negara kita saat ini, sekolah yang baik dan benar masih dapat dihitung dalam hitungan jari. Hal-hal yang sudah ada tersebut menjadi terlupakan bahkan hilang. Yang terjadi saat ini, kita sebagai bangsa Indonesia malah senang berorientasi dengan apa yang berbau ”Barat”, dengan kata lain luar negeri. Bisa jadi, kekaguman kita pada hal-hal yang berbau luar negeri karena budaya kita tidak pernah menghargai hasil karya bangsanya sendiri. Bisa jadi pula, karena kita tidak terlalu peduli sejarah. Kita tidak terlalu dikenalkan dengan ”sejarah” yang sebenarnya.

Bagaimanapun, kita memiliki banyak tokoh pendidikan yang hebat dalam konsep pendidikan dalam membangun bangsa Indonesia. Sebagai contoh, Engku Moehammad Syafei yang hidup pada masa penjajahan kolonial Belanda, ia mendirikan INS Kayu Tanam. Tokoh pendidikan ini berkeyakinan konsep yang ada di INS Kayu Tanam akan mendidik siswa berwatak mandiri, berkemauan, dan bekerja keras. Oleh karena itu konsep ini perlu terus dilestarikan dalam penyelenggaraan pendidikan di negara kita saat ini.

A. Dasar dan Nilai Filosofis INS Kayu tanam

· NASIONALISME, jati diri bangsa-jati diri masing-masing individu (karakter bangsa dan karakter diri)- membangun kembali

· PATRIOTISME

· IDEALISME

· WIRAUSAHA-ENTERPRENEUR-MANDIRI

· MASYARAKAT-KOMUNAL

· 3H (HEAD -CIPTA, HEART -RASA, HAND -KARSA) - MANUSIA SEUTUHNYA. Tiga komponen tersebut merupakan komponen utama dalam sistem pendidikan INS Kayu Tanam, yaitu tenaga ia bisa bekerja, otak ia bisa berpikir, dan jiwa ia bisa merasa.

B. Tujuan INS Kayu Tanam

agar peserta didik mampu

(1) menumbuhkembangkan budiperkerti dan akhlak mulia (sesuai dengan ajaran agama, etika dan moral);

(2) menumbuhkembangkan kemerdekaan berpikir (aktif-kreatif);

(3) menumbuhkembangkan pengetahuan, bakat/talenta dan potensi diri sesuai dengan kebutuhan masyarakat; menumbuhkembangkan etos/unjuk kerja yang tinggi;

(5) menanamkan percaya diri, kreativitas, kemandirian, dan kewirausahaan (entrepreneurship; serta

(6) mewujudkan dalam tindakan nyata semboyan: “cari sendiri dan kerjakan sendiri ”, artinya sekolah harus mampu membiayai dirinya dan tidak mau menerima bantuan yang dapat mengurangi kebebasan untuk mencapai cita-cita.

Di Ruang Pendidikan INS Kayutanam, Moh Sjafei merintis dan menumbuh-kembangkan kemandirian, kereativitas dan jiwa entrepereneurship/wirausaha, yaitu yang sejalan dengan life skills dari kurikulum yang berbasis kompetensi (KBK).

1. Kemandirian

Mampu berdiri sendiri tanpa tergantung kepada orang lain. Kemandirian adalah memiliki jati diri yang kuat, gigih, ulet, rasa percaya diri yang tinggi, mampu tampil beda, tetapi rendah hati. Kita (orang Indonesia) harus mampu hidup seperti “ayam kampung ”, dan bukan halnya seperti selama ini, di mana kita dibesarkan dan dididik seperti “ayam ras ”. Dengan demikian, agar mampu eksis menghadapi tantangan global haruslah didukung oleh individu-individu yang mampu menjadi “jago ” yang tidak hanya “jago kandang ”, tetapi mampu menjadi tenaga ahli, tidak hanya TKI-sebagai tenaga pembantu rumah tangga dan buruh kasar ( lebih satu juta orang) di Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Korea, Saudi Arabia, Abu Dabi, dsb. dan sekitanya, dll. Melihat berbagai kasus penganiayaan, pelecehan serta tindakan semena-mena dari majikan menjadi TKI di luar negari sebagai tenaga pembantu dan buruh kasar, “martabat dan harga diri bangsa Indonesia betul-betul diuji dan dipertaruhkan ”. Kadang-kadang memang tidak ada pilihan kerja lain, dari pada makan nasi tiwul seperti di berbagai tempat di P Jawa, makan singkong rebus di Indramayu, kawin kontrak di daerah Bogor, puncak dan sekitarnya, dll.

2. Kreativitas

Kreativitas adalah menghasilkan produk baru yang penting atau meliputin semua usaha produktif dari seseorang. Ada sejumlah karakteristik kreatifitas, di antaranya (1) hasrat ingin tahu, (2) cenderung/senang untuk menemukan sesuatu, (3) berkemampuan mandiri dan independent, (4) memilih melakukan tugas yang sulit dan menantang, (5) mampu memecahkan masalah dengan baik dan yakin dengan putusan yang telah diambil, (6) senang/bergairah memecahkan masalah, (7) pemikir yang fleksibel, (8) bekerja dengan dedikasi yang tinggi dengan waktu yang lebih panjang terhadap masalah yang tidak terpecahkan, (9) memberikan respons cepat dan di luar dugaan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, (10) memperlihatkan kemampuan untuk mensintesis dan memahami implementasinya, dan (11) berkemampuan untuk membaca dengan baik.

3. Wirausaha

Thomas Paine (1776); Entrepreneur’s Credo:

“I do not to choose to be a common man, it is my right to be uncommon… if I can. I seek opportunity… not security. I do not wish to be a kept citizen, humbled and dulled by having the state look after me. I refuse to barter incentive for a dole; I prefer the challenges of life the guaranteed existence; the thrill of fulfillment to the state calm of Utopia. I will not trade freedom for beneficence nor my dignity for a handout. I will never cower before any master nor bend to any thereat. It is any heritage to stand erect, proud and unafraid; to think and act for myself, to help, I have done. All this what it means to be Entrepreneur”

C. Tingkat pendidikan, mata pelajaran dan nilai-nilai yang dikembangkan di RP Kayutanam

a. Tingkat Pendidikan di INS Kayutanam atau yang lebih dikenal dengan subtan Ruang Pendidikan Kayutanam, terdiri dari 4 tingkatan ruang:

- Ruang rendah sekolah dasar (7 tahun)

- Ruang antara (1 tahun)

Merupakan ruang transisi atau peralihan yang harus ditempuh siwa yang lulus dari ruang rendah sekolah dasar sebelum memulai pendidikannya di ruang dewasa.

- Ruang dewasa (4 tahun)

- Ruang masyarakat (1 tahun)

Bagi tamatan dari ruang dewasa yang hendak menjadi guru diwajikan belajar ilmu keguruan dan praktik mengajar.

b. Mata Pelajaran yang ada di INS Kayutanam

(Bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Indonesia (terkadang engguakan bahasa ibu)

Khusus untuk ruang dewasa ditambah pelajaran Bahasa Inggris.

Bahasa Belanda hanya dipelajari agar dapat menerjemahkan buku-buku pelajaran yang menggunakan bahasa Belanda). ***


Sumber: edu-articles.com
(Baca lanjutannya ....)

Kemendiknas Cabut Izin 18 RSBI

okezoneSebanyak 18 Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dicabut izinnya karena tidak memenuhi persyaratan pendirian RSBI.

Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Kemendiknas Suyanto mengatakan, 18 sekolah yang dicabut izinnya itu terdiri atas delapan SMP, delapan SMK dan dua SMA. Dia menjelaskan, pencabutan izin karena standard dan mutu pendidikan di 18 sekolah itu menurun.

Penurunan mutu tersebut contohnya karena kemampuan bahasa Inggris siswa dan atau guru menurun, pergantian kepala sekolah yang tidak memenuhi syarat, pengembangan silabus dan proses pembelajaran yang menurun. “Kita memang mengevaluasi sekolah-sekolah setiap tahunnya. Tidak kita sebut lokasinya karena ini sama dengan aib,” katanya di gedung Kemendiknas, Minggu (6/6/2010).

Suyanto menjelaskan, status sekolah RSBI itu dicabut lalu dikembalikan ke Sekolah Standar Nasional (SSN) bagi SMP dan SMA. Sementara untuk SMK, jelasnya, diberikan waktu satu tahun untuk evaluasi. Kemendiknas pun saat ini sedang menjalin kerja sama dengan Dinas Pendidikan (Disdik) disetiap provinsi guna mengevaluasi RSBI yang ada.

Kedua pihak juga akan mengawasi apakah sekolah RSBI memungut biaya diluar yang dipersyaratkan. Dari itu, pencabutan izin RSBI dapat saja bertambah karena surat pendirian memang dikeluarkan oleh Kemendiknas.

Katanya, persyaratan sekolah menjadi bertaraf internasional memang cukup sulit. Diantaranya komposisi guru untuk tingkat SD ialah 10 persen harus jenjang S2 dan S3, untuk SMP 20 persen dan SMA guru berstatus S2 dan S3nya harus 30 persen.

Kepala sekolah, lanjutnya, juga harus minimal S2 dan mampu berbahasa asing aktif. Sekolah juga harus mendapatkan akreditasi A dari badan standar sekolah terpercaya. Sarana dan prasarana juga harus lengkap dengan teknologi, informasi dan komunikasi terdepan. Kurikulum selain menyesuaiakan dengan standar nasional juga diperkaya dengan kurikulum negara maju. “Untuk SMA harus menerapkan system Satuan Kredit Semester (SKS),“ lanjutnya.

Pembelajaran juga harus bilingual serta manajemen sekolah juga harus berstandar ISO 9001:14000. Suyanto menjelaskan, sekolah RSBI juga harus diaudit oleh lembaga audit independen sehingga transparan dan akuntabel. Akibatnya, Suyanto menegaskan, fasilitas pembelajaran serta mutu inilah yang menyebabkan biaya pendidikan di RSBI lebih mahal dari sekolah lainnya.

Suyanto menjelaskan, rumitnya persyaratan yang ada menyebabkan tidak semua sekolah di Indonesia bertaraf internasional. Minimal hanya satu SD, SMP, SMA dan SMK yang akan menyandang RSBI di satu kabupaten dan kota. Ini pula yang sesuai dengan bunyi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pasal 50 ayat 3. “Maksimal jumlah sekolah RSBI hanya 2.000 di Indonesia,” lugasnya.

Diketahui, Berdasarkan catatan Kemendiknas, jumlah sekolah RSBI di Indonesia mencapai 1.110 sekolah. Terdiri dari 997 sekolah negeri dan 113 sekolah swasta. Dari jumlah itu, jumlah SD RSBI tercatat sebanyak 195 sekolah, SMP RSBI sebanyak 299 sekolah, SMA RSBI sebanyak 321 sekolah,dan SMK RSBI sebanyak 295 sekolah.(Neneng Zubaidah/Koran SI/ram) ***

Sumber: news.okezone.com
(Baca lanjutannya ....)

Uni Eropa Hibahkan Rp2,4 Triliun untuk Pendidikan

hibahUni Eropa menghibahkan 200 juta Euro atau sekitar Rp2,4 triliun dalam "Program Dukungan Sektor Pendidikan." Perjanjian pendanaan hibah ini ditandatangani oleh Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto, dan Komisioner urusan Pembangunan Uni Eropa, Andris Piebalgs.

Dana ini akan dimanfaatkan untuk membantu penyediaan layanan pendidikan dasar sembilan tahun yang berkualitas untuk semua anak pada 2015. Penandatanganan akan dilakukan besok, 25 Mei di Graha Utama Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta.

Penandatanganan hibah ini adalah bagian dari kegiatan "Forum Kemitraan Pendidikan Indonesia" antara Kementerian Pendidikan Nasional dan Uni Eropa, yang berlangsung selama dua hari. Forum tersebut, Uni Eropa membahas pelaksanaan program pendidikan dasar dengan para perwakilan pemerintah dan pemangku kepentingan di bidang pendidikan. ***

Sumber: kemdiknas.go.id
(Baca lanjutannya ....)

Refleksi Pasca-Lomba Cipta Cerpen Siswa SMP se-Jawa Tengah Tahun 2010

Usai sudah perhelatan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) SMP tingkat Jawa Tengah tahun 2010. Khusus untuk Lomba Cipta Cerpen, tema lomba yang diangkat adalah cerpen bermuatan lokal yang berkisar pada kehidupan bermasyarakat yang mengungkapkan dan mempercakapkan nilai-nilai kehidupan tradisional (muatan lokal), seperti mitologi, legenda, fabel, kepercayaan, serta adat-istiadat daerah/etnik setempat dengan “sentuhan baru” atau teknik penyajian yang khas. Tema ini cukup menarik dan menantang di tengah tantangan budaya global yang dinilai mulai menggerus nilai-nilai kearifan lokal. Melalui tema ini, disadari atau tidak, para peserta berupaya untuk menampilkan “warna-warna lokal” yang khas dan eksotis, sehingga diharapkan bisa memperkaya nilai-nilai budaya nasional yang multikultur dan multietnik. Tema dan subtema, serta ketentuan teknis pun disampaikan dewan juri kepada para peserta dan guru pembimbing pada saat temu teknik yang berlangsung 14 Mei 2010 pukul 20.00 WIB.

Setidaknya, ada dua catatan menarik berkaitan dengan event lomba bergengsi itu. Pertama, dari sisi kuantitas, belum semua kabupaten/kota se-Jawa Tengah mengirimkan wakilnya. Dari 35 kabupaten/kota, baru 28 daerah yang mengirimkan wakilnya. Mungkin benar, jumlah tak memiliki pengaruh signifikans terhadap mutu karya siswa. Namun, dari sisi kekayaan nilai kearifan lokal, makin banyak daerah yang mengirimkan wakilnya, jelas akan makin memperkaya khazanah budaya lokal yang diangkat ke dalam sebuah teks fiksi, sehingga “warna lokal” Jawa Tengah makin kuat dan ekspresif.

Kedua, dari sisi kualitas, masih ada beberapa kelemahan mendasar yang dilakukan oleh sebagian besar peserta, yakni masih kuatnya intervensi guru pembimbing dalam cerpen peserta, hanya sekadar mengalihkan cerita-cerita rakyat bermuatan lokal ke dalam sebuah teks, dan kreativitas peserta yang “liar” dan “mencengangkan” belum sepenuhnya tergarap. Artinya, teks-teks cerpen yang mereka buat kurang ada sentuhan kreativitas dalam penggarapan cerpen yang khas dan kontekstual.

Sebagai event lomba yang berupaya untuk menjaring siswa SMP yang akan mewakili Jawa Tengah ke jenjang nasional, potensi dan talenta peserta jelas menjadi kriteria utama. Sebagus apa pun karya cerpen peserta secara tekstual, belum tentu layak menjadi kandidat juara apabila intervensi guru pembimbing terlalu kuat. Hal itu tampak jelas ketika juri menentukan sub-tema “legenda” pada babak I. Sebagian besar peserta justru menampilkan tema di luar ketentuan dewan juri. Agaknya, mereka sangat terpengaruh oleh desain dan skenario cerita yang sudah dipersiapkan secara matang dari rumah, sehingga mereka tidak leluasa “berimprovisasi” dan mengembangkan imajinasi ke dalam teks cerpen. Walhasil, cerpen-cerpen lomba yang berada di luar subtema, secara substansial sudah dinyatakan gugur, sehingga tidak bisa masuk sebagai 10 cerpen terbaik yang dinominasikan untuk mengikuti lomba babak II.

FLS2NFLS2NFLS2NFLS2N


Suasana ketika event FLS2N berlangsung.

Pada babak II, tiga juri: Pak Sarono (Purworejo), Dimas Jimat Kalimasadha (Kudus), dan Sawali Tuhusetya (Kendal), sepakat untuk menentukan subtema baru, yakni mitologi yang berkaitan dengan kepahlawanan lokal kepada para peserta yang karyanya terpilih sebagai 10 karya terbaik pada babak I. Para peserta diberikan kesempatan untuk menulis cerpen selama 120 menit sesuai subtema yang ditentukan. Meski bukan sebagai salah satu kriteria penilaian, kami sepakat untuk mempertajam unsur penilaian dengan melakukan wawancara kepada para nominator pasca-penilaian teks cerpen. Wawancara ini semata-mata dilakukan untuk menggali tingkat kreativitas dan orisinalitas karya siswa. Kombinasi antara teks cerpen dan wawancara itulah yang kami jadikan sebagai dasar untuk menentukan siapa yang layak mewakili Jawa Tengah ke jenjang nasional. Sayangnya, dewan juri tidak tahu identitas setiap peserta karena hanya mencantumkan nomor peserta ke dalam teks cerpen, sehingga kami tidak tahu peserta dari sekolah dan daerah mana saja yang menjadi Juara I, II, III, harapan I, harapan II, dan harapan III.

Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada di sana-sini, para peserta di bawah gemblengan guru pembimbing masing-masing sudah memberikan karya terbaik untuk mewakili daerahnya. Kiprah mereka layak diapresiasi dan diberikan catatan tersendiri. Soal kalah atau menang bukanlah yang utama, karena memang seperti itulah “hukum” yang berlaku dalam sebuah lomba. Yang penting, bagaimana menjadikan pengalaman berharga dalam event lomba itu untuk memacu diri agar bisa terus berkarya dan berkreavititas. Nah, salam budaya dan salam kreatif! ***
(Baca lanjutannya ....)

Kemdiknas-BKN Teken Peraturan Bersama Juklak Jabatan Fungsional Guru

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) bersama Badan Kepegawaian Negara (BKN) melakukan penandatanganan peraturan bersama tentang petunjuk pelaksanaan (juklak) jabatan fungsional guru dan angka kreditnya.

Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh bersama dengan Kepala BKN Edi Topo Ashari di Kemdiknas, Jakarta, Kamis (6/5/2010).

Peraturan bersama ini juga berisi juklak jabatan fungsional pengembang teknologi pembelajaran dan angka kreditnya, serta juklak jabatan fungsional pranata laboratorium pendidikan dan angka kreditnya.

Mendiknas menyampaikan, juklak ini terbitkan guna memberikan penghargaan terhadap prestasi yang diraih. Pengakuan itu, kata Mendiknas, sangat penting karena ada orang yang prestasinya bagus, tetapi prestasi itu tidak diapresiasi. "Prestasi tadi seakan-akan tidak bisa kita kenal karena rumusnya tidak ada. Karena tidak dikenal tidak bisa kita berikan apresiasi," katanya.

Dengan diterbitkannya tiga juklak ini, kata Mendiknas setidaknya sudah bisa memberikan pengakuan terhadap prestasi. Selain itu, juklak ini terkait dengan promosi dan kenaikan pangkat. "Tidak kalah penting pegawai bisa merencanakan karirnya," katanya.

Edi mengatakan, dengan ditetapkannya tiga peraturan bersama ini, diharapkan agar pejabat yang berkepentingan dapat melaksanakan peraturan bersama ini dengan baik dan tertib. Terutama, kata dia, dalam pengembangan pembinaan karir pejabat fungsional. Lebih khusus lagi, lanjut dia, yang berkaitan dengan prosedur penilaian dan penetapan angka kredit pengangkatan dalam jabatan dan kenaikan jabatan atau pangkat perpindahan dalam dan dari jabatan, serta pembebasan sementara dan pemberhentian dalam dan dari jabatan.

"Dengan upaya ini diharapkan dapat dihasilkan pejabat fungsional yang profesional dan mandiri, serta mempunyai uraian tugas yang jelas penilaian, kinerja terukur, serta jalur karir jabatan dan pangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku," kata Edi.

Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemdiknas Baedhowi menyampaikan, peraturan bersama ini merupakan juklak dari Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 16 Tahun 2009 tentan Jabatan Fungsional Guru dan angka kreditnya. "Semua yang berkaitan dengan kenaikan pangkat yang dilakukan oleh Kemdiknas harus mendapatkan pengakuan dari BKN," katanya
.
Baedhowi menyebutkan, ada tiga hal terkait kenaikan pangkat. Pertama adalah program induksi bagi guru untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Baedhowi mengatakan, selama satu tahun pertama, guru menjalani masa percobaan. Penilaian dilakukan oleh kepala sekolah, guru-guru, dan pengawas. "Kalau dinyatakan baik baru bisa mengikuti prajabatan untuk diangkat menjadi PNS," katanya.

Guru yang akan naik pangkat, kata Baedhowi, juga diwajibkan untuk menulis karya tulis ilmiah. Sebelumnya, kata Baedhowi, penulisan karya ilmiah untuk naik dari golongan IVA ke IVB, namun sekarang dimulai dari golongan IIIB untuk naik pangkat ke golongan IIIC. "Mereka wajib menulis karya ilmiah," katanya.

Baedhowi melanjutkan, pada masa pangkat tertentu guru harus mengikuti program pelatihan atau continous professional development (CPD) dan peningkatan kompetensi. Waktunya selama 180 jam dalam waktu empat tahun. Pelatihan meliputi pelatihan secara reguler, seminar, atau kegiatan-kegiatan untuk peningkatan mutu. "Itu perubahannya untuk menjadikan guru konsisten dan professional, " ujarnya. ***

Sumber: http://www.depdiknas.go.id/
(Baca lanjutannya ....)

3.254.365 Siswa Lulus UN Utama SMP/MTs/SMPT 2010

Sebanyak 3.254.365 siswa atau 90,27 persen peserta lulus Ujian Nasional Utama SMP/MTs/SMPT 2010. Sementara, dari total 3.605.163 peserta UN terdapat 350.798 (9,73%) siswa yang mengulang UN.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh menyampaikan hal tersebut saat memberikan keterangan pers tentang hasil UN SMP sederajat di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Kamis (6/5/2010).

Angka kelulusan itu, jika dibandingkan tahun 2009 dengan jumlah peserta UN 3.441.815 siswa mengalami penurunan. "Tingkat kelulusannya tahun lalu 95,09 persen, tetapi masih ada kesempatan untuk ujian ulang. Mudah-mudahan bertambah (kelulusannya) ," ujarnya.

Mendiknas menyebutkan, dari 9,73 persen siswa yang mengulang UN ada beberapa provinsi yang paling tinggi persentase mengulangnya, yakni Nusa Tenggara Timur (39,87%), Gorontalo (38,80%), dan Bangka Belitung (34,69%). "Paling kecil Provinsi Bali yakni 1,4 persen," kata Mendiknas.

Adapun persentase siswa yang mengulang menurut jumlah mata pelajaran (MP), yakni ada 21,19 persen atau 74.317 siswa (satu MP), 37,14 persen atau 130.277 siswa (dua MP), 29,41 persen atau 103.185 siswa (3 MP), dan 12,26 persen atau 43.019 siswa (4 MP).

Mendiknas menyebutkan, terdapat 561 (1,31%) sekolah yang kelulusannya nol persen dengan jumlah siswa 9,283 (0,26%). Di sisi lain, lanjut Mendiknas, ada 17.852 sekolah (41,64%) sekolah yang kelulusannya 100 persen dengan jumlah siswa 1.116.761 siswa (31,32%).

Mendiknas menyampaikan daftar 102 sekolah yang masuk dalam 102 besar yang memiliki nilai rata-rata UN tertinggi. Mendiknas menyebutkan, peringkat pertama adalah SMP Negeri 1 Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur dengan jumlah peserta 394 siswa. "Lulus 100 persen dan nilai rata-rata UN 9,38," ujarnya.

Sementara, Mendiknas menyebutkan, peringkat kedua adalah SMP Negeri 1 Denpasar, Kota Denpasar, Bali dengan jumlah peserta 295 siswa. Sekolah ini siswanya lulus 100 persen dengan nilai rata-rata sama, yakni 9,38. Selain itu, kata Mendiknas, disusun daftar 117 siswa yang nilainya tertinggi.

Mendiknas menyebutkan tiga siswa yang memiliki nilai tertinggi. Mereka adalah Fitriyan Dwi Rahayu, siswi SMPN 1 Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Ni Made Yuli Lestari (siswi SMPN 1 Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali), dan Ni Kadek Indra Puspayant (siswi SMPN 1 Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali).

"Nilainya 9,95 hampir 10 semua. Dan ini bukan di Semarang, DKI Jakarta, atau Jawa Timur, ada di kota kecil. Nanti sore barangkali Bapak Presiden SBY akan telepon ke kepala sekolah dari masing-masing sekolah ini. Kami pun juga akan memberikan penghargaan bagi sekolah-sekolah terbaik ini," katanya.

Mendiknas mengatakan, para siswa yang memiliki nilai tertinggi ada di daerah menunjukkan bahwa prestasi tidak serta merta didominasi oleh kota-kota besar. "Artinya lokus tidak memberikan jaminan seseorang berprestasi. Buktinya yang juara bukan di ibukota provinsi, tetapidi daerah terpencil," ujarnya.

Hasil UN akan diumumkan oleh masing-masing sekolah besok (Jumat). Namun, kata Mendiknas, yang terpenting masih ada ujian ulang pada 17-20 Mei 2010. "Masih ada 10 hari untuk persiapkan. Mudah-mudahan dalam jangka 10 hari mereka bisa persiapkan dengan baik. Kepala sekolah, guru, dan orang tua kita semua tetap memberikan dukungan, dorongan, dan motivasi, sehingga Insya Allah bisa sukses," katanya.***

Sumber: http://www.depdiknas.go.id/
(Baca lanjutannya ....)